Akulah Rindu, yang merindukanmu disetiap nafas..
Akulah Rindu, rinduku pisau api yang merajam jantungku sendiri.
Akulah Rindu, rinduku sepasang mata, Cintamu; cahaya yang menuntunnya.
Aku sering membuat puisi kerinduan di setiap pagi, di setiap hari,
disetiap jengkal udara; berharap kau menghirupnya.
Aku, selalu saja tiba-tiba tak bisa berhitung,
menghitung seberapa banyak rindu yang kupendam,
dan kata rindu yang aku ucapkan.
sebosan apa kau mendengarkan, kadang menjadi pikiran.
jika ada kata lain selain rindu, mungkin kangen..
eh.. apa bedanya?
Aku tak bisa berhenti merindukanmu.
Rindu ini seringkali tak tertahankan, meski canda tawa dan bayangmu,
terekam jelas dalam pikiran.
Bahkan, rindu selalu saja berpura-pura sakit setelah perpisahan,
hingga kita perlu mengobatinya dengan pertemuan.
Rindu acapkali datang lalu meronta-ronta meneriaki kerinduannya,
ia selalu minta dijamu secangkir teh manis dan pelukan hangat.
katanya; ia selalu merasa dingin mana kala sendiri.
tapi yang tidak kamu ketahui adalah,
Rindu ini api, sayang. api cantik yang takkan pernah padam oleh dingin.
Rindu ini, lilin lilin yang melawan angin.
bayangkan seberapa kuatnya.
Sampai dibait ke empat ini, aku masih saja merindukanmu.
Di detik ini juga, pun rindu merindukan pelukmu.
kalau nanti kita bertemu, peluklah aku.
peluk aku sedalam-dalamnya rindumu.
sedalam apa yang tak mampu dijatuhkan malam, kedalam matamu.
Sudah ya..
Aku mau tidur, malam ini rindu harus di nina bobo-kan.
aku nggak mau mataku begadang dengan kesedihan.
-Dari Rindu untuk yang Dirindukan.